بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ؛ أَكْثَرُ خَطَايَا اِبْنِ آَدَمَ
مِنْ لِسَانِهِ - رواه الطبرانى
Rasulullah SAW bersabda ; Kehilafan
manusia di dominasi oleh perbuatan lisan. (HR.
Thabrani)
يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
حِفْظُ إِسْلاَمِهِ وَصَوْنُهُ عَمَّا يُفْسِدُهُ ويُبْطِلُهُ ويَقْطَعُهُ وَهُوَ الرِّدَّةُ
وَالعِياَذُ بِاللهِ تَعَالىَ , وَقَدْ كَثُرَ فىِ هَذَا الزَّمَانِ التَّسَاهُلُ فىِ
الكَلاَمِ حَتَّى إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ بَعْضِهِمْ أَلْفاَظٌ تُخْرِجُهُمْ عَنِ الإِسْلاَمِ
وَلاَ يَرَوْنَ ذَلِكَ ذَنْباً فَضْلاً عَنْ كَوْنِهِ كُفْراً
Setiap muslim wajib memelihara dan
menjaga keislamannya dari segala hal yang merusak keislaman, yang membatalkan
keislaman ataupun yang melepas keislaman, hal ini di sebut MURTAD, semoga Allah
senantiasa melindungi kita semua, amien. Zaman sekarang nyaris sudah merebak,
banyak orang menganggap remeh dalam menuturkan kata-kata sampai terlontar
kata-kata yang membuatnya keluar dari Islam. Mereka tidak sadar bahwa itu dosa,
apalagi menimbulkan kekufuran.
وَالرِّدَّةُ ثَلاَثَةُ
أَقْساَمٍ كَمَا قَسَّمَهاَ النَّوَوِىُّ وَغَيْرُهُ مِنْ شاَفِعِيَّةٍ وَحَنَفِيَّةٍ
وَغَيْرِهِمْ ؛ إِعْتِقاَدَاتٌ وَأَفْعاَلٌ وَأَقْوَالٌ، وَكُلٌّ يَتَشَعَّبُ شُعَبًا
كَثِيْرَةً
Murtad terbagi tiga bagian
sebagaimana disampaikan Al-Imam An-Nawawi, juga para Ulama madhab Imam Syafi’I
dan Imam Hanafi. Yaitu Murtad sebab Keyakinan, Murtad sebab Perbuatan dan
Murtad sebab Perkataan. Masing-masing memiliki cabang yang sangat banyak.
Disini Insya Allah kita mengangkat
bagian ketiga, MURTAD SEBAB PERKATAAN :
مِنْهَا ؛ أَنْ
يَقُوْلَ لِمُسْلِمٍ ياَ كاَفِرُ أَوْ ياَ يَهُوْدِىُّ أَوْ ياَ نَصْرَانِىُّ أَوْ
ياَ عَدِيْمَ الدِّيْنِ مُرِيْداً بِذَلِكَ أَنَّ الَّذِى عَلَيْهِ المُخَاطَبُ مِنَ
الدِّيْنِ كُفْرٌ أَوْ يَهُوْدِيَّةٌ أَوْ نَصْرَانِيَّةٌ أَوْ لَيْسَ بِدِيْنٍ لاَ
عَلَى قَصْدِ التَّشْبِيْهِ
Diantaranya
: Memanggil orang Islam dengan sebutan “Hai Kafir”, “Hai Yahudi”, “Hai
Nashrani”, “Hai orang tidak beragama” dan sebagainya, sedangkan tujuannya
memang menyatakan hal-hal itu kepada orang Islam. Bukan bertujuan Tasybih
(Menyerupai) yang memang orang islam itu melakukan hal-hal sama dengan non
msulim.
وَكَالسُّخْرِيَّةِ
بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعاَلىَ أَوْ وَعْدِهِ أَوْ وَعِيْدِهِ مِمَّنْ لاَ يَخْفَى
عَلَيْهِ نِسْبَةُ ذَلِكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ , وَكَأَنْ يَقُوْلَ لَوْ أَمَرَنِى
اللهُ بِكَذَا لَمْ أَفْعَلُهُ أَوْ لَوْ صاَرَتِ القِبْلَةُ فىِ جِهَةِ كَذَا ماَ
صَلَّيْتُ إِلَيْهَا أَوْ لَوْ أَعْطَانِى اللهُ الجَنَّةَ ماَ دَخَلْتُهَا مُسْتَخِفاً
أَوْ مُظْهِراً لِلْعِناَدِ فىِ الكُلِّ
Seperti
merendahkan orang dengan ejekan yang menggunakan nama-nama Allah SWT,
menggunakan janji Allah, menggunakan ancaman Allah dan ketentuan lain yang ada
di Allah, dan yang tidak asing lagi. Seperti orang berkata, “Apabila Allah
memerintahkan sesuatu saya tidak akan melakukannya”. Atau berkata, “Apabila
kiblat berubah ke arah utara misalnya saya tidak akan shalat menghadap ke arah
itu”. Atau berkata, “Apabila Allah memberikan aku sorga, saya tidak akan mau
masuk”. semua itu dengan tujuan merendahkan atau menampakkan pengingkaran.
أَوْ قَالَ
لِفِعْلٍ حَدَثَ هَذَا بِغَيْرِ تَقْدِيْرِ اللهِ , أَوْ إِذَا قاَلَ إِنْسَانٌ لَوْ
شَهِدَ عِنْدِىَ الأَنْبِيَاءُ أَوْ المَلاَئِكَةُ أَوْ جَمِيْعُ المُسْلِمِيْنَ بِكَذا
ماَ قَبِلْتُهُمْ , أَوْ قاَلَ لاَ أَفْعَلُ كَذَا وَإِنْ كاَنَ سُنَّةً بِقَصْدِ الإِسْتِهْزَاءِ
Atau
berkata pada sesuatu yang baru terjadi, “Ini bukan taqdir dari Allah”. Atau
berkata, “Apabila para Nabi, malaikat atau segenap kaum muslimin bersaksi
(dakwah) didekatku maka aku tidak akan menerimanya”. Atau apabila seorang
berkata, “Saya tidak akan melakukan sesuatu meskipun sesuatu itu sunnah”. Semua
dengan maksud mengejek.
أَوْ قاَلَ
شَخْصٌ لَوْ كاَنَ فُلاَنٌ نَبِياً ماَ آَمَنْتُ بِهِ , أَوْ أَعْطَاهُ عاَلِمٌ فَتْوًى
فَقَالَ أَيْشٍ هَذَا الشَّرْعُ مُرِيْداً الإِسْتِخْفَافَ بِحُكْمِ الشَّرْعِ , أَوْ
قاَلَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى كُلِّ عاَلِمٍ مُرِيْداً الإِسْتِغْرَاقَ الشَّامِلَ ,
أَوْ قاَلَ أَناَ بَرِىءٌ مِنَ اللهِ أَوْ مِنَ المَلاَئِكَةِ أَوْ مِنَ النَّبِيِّ
أَوْ مِنَ الشَّرِيْعَةِ أَوْ مِنَ الإِسْلاَمِ , أَوْ قاَلَ لاَ أَعْرِفُ الحُكْمَ
مُسْتَهْزِئاً بِحُكْمِ اللهِ
Atau
apabila seseorang berkata, “Apabila si fulan itu Nabi maka saya tidak akan
beriman”. Atau ketika ada seorang alim memberikan pernyataan agama, lalu di
komentar. “Ehh, aduh ini hukum apa ya?” Bermaksud merendahkan hukum agama. Atau
berkata, “Laknat Allah diperuntukkan kepada semua orang alim”. Maksudnya
mencakup seluruh orang alim. Atau berkata, “Saya tidak terikat dengan Allah,
juga dengan malaikat, dengan Nabi, dengan Hukum Islam atau dengan Islam.” Atau
berkata, “saya tidak mengenal hokum Islam”. Maksudnya mengejek hokum Allah SWT.
أَوْ قاَلَ
وَقَدْ مَلأَ وِعَاءً (وَكَأْساً دِهَاقاً-1) أَوْ أَفْرَغَ شَرَاباً فَقاَلَ (فَكَاَنتْ
سَرَاباً-2) أَوْ عِنْدَ وَزْنٍ أَوْ كَيْلٍ (وَإِذَا كاَلوَهْمِ أَوْ وَزَنُوْهُمْ
يَخْسُرُوْنَ -3) أَوْ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمْعٍ (وَحَشَرْناَهُمْ فَلَمْ نُغاَدِرْ مِنْهُمْ
أَحَداً-4) بِقَصْدِ الاِسْتِخْفاَفِ فىِ الكُلِّ بِمَعْنَى هَذِهِ الآَياَتِ
Atau
berkata saat perut kenyang, “Gelas-gelas yang penuh berisi minuman”. (QS.
Annaba 34). Atau berkata saat minum, “Maka menjadi fatamorganalah ia”. (QS.
Annaba 20). Atau berkata saat menimbang atau mengukur, “Apabila mereka menakar
atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al-Muithofifin 3).
Atau berkata saat melihat kumpulan, “Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak
Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi 47) Semuanya itu dengan
maksud mengejek dan merendahkan dengan menggunakan makna dari ayat-ayat
tersebut.
وَكَذَا كُلُّ
مَوْضِعٍ استُعْمِلَ فِيْهِ القُرْآَنُ بِذَلِكَ القَصْدِ فَإِنْ كاَنَ بِغَيْرِ ذَلِكَ
القَصْدِ فَلاَ يَكْفُرُ , وَكَذَا يَكْفُرُ مَنْ شَتَمَ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا , أَوْ
قاَلَ أَكُوْنُ قَوَّاداً إِنْ صَلَّيْتُ أَوْ ماَ أَصَبْتُ خَيْراً مُنْذُ صَلَّيْتُ
أَوْ الصَّلاَةُ لاَ تَصْلُحُ لىِ بِقَصْدِ الاِسْتِهْزَاءِ
Demikian
pula setiap tempat (ayat) dalam Al-Qur’an ketika digunakan untuk mengejek dan
merendahkan maka itu membuat murtad, namun apabila ketika tidak bermaksud
mengejek dan merendahkan maka tidak membuat murtad. Demikian pula membuat
murtad adalah marah atau jengkel kepada Nabi atau malaikat. Atau berkata, “Saya
terikat apabila saya melaksanakan shalat”. Atau berkata, “Saya tidak menemukan
kebaikan apa-apa selama saya melaksanakan shalat”. Atau berkata , Shalat itu
tidak baik buat saya”. Dengan niat mengejek.
وَقَدْ عَدَّ
كَثِيْرٌ مِنَ الفُقَهاَءِ كاَلفَقِيْهِ الحَنَفِىِّ بَدْرُ الرَّشِيْدِ وَالقاَضِى
عِيَاضٍ الماَلِكىِّ رَحِمَهُماَ اللهُ أَشْيَاءً كَثِيْرَةً فَيَنْبَغِى الاِطِّلاَعُ
عَلَيْهَا فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَرَّ يَقَعُ فِيْهِ
Para
Ulama Fiqih menyebutkan banyak sekali perkataan yang menimbulkan kekufuran atau
murtad, layak untuk selalu di kaji. Karena orang yang tidak mengetahui hal
buruk maka berpeluang besar terjerumus kepadanya.
وَالقَاعِدَةُ
أَنَّ كُلَّ عَقْدٍ أَوْ فَعْلٍ أَوْ قَوْلٍ يَدُلُّ عَلَى اِسْتِخْفاَفٍ بِاللهِ أَوْ
كُتُبِهِ أَوْ رُسُلِهِ أَوْ مَلاَئِكَتِهِ أَوْ شَعاَئِرِهِ أَوْ مَعَالِمِ دِيْنِه
أَوْ أَحْكاَمِهِ أَوْ وَعْدِهِ أَوْ وَعِيْدِهِ كُفْرٌ فَلْيَحْذَرِ الإِنْسَانُ مِنْ
ذَلِكَ جَهْدَهُ عَلَى أَىِّ حاَلٍ
Pedomannya
ialah bahwa setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang menunjukan mengejek
atau menghina Allah, menghina kitab-kitab Allah, menghina para Rasul Allah,
menghina malaikat Allah, menghina Syi’ar Agama Allah, menghina para Ulama
Allah, menghina hukum-hukum Allah, menghina janji Allah dan menghina ancaman
Allah adalah menimbulkan murtad, kufur, keluar dari Islam. Seorang muslim
hendaknya mewaspadainya di dalam kondisi apapun.
Allah
Mengetahui Segalanya
Daftar
Pustaka : Sulam At-Taufiq, Syekh Abdullah bin Al-Husen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar