Minggu, 04 Desember 2011

BATAS PERKATAAN YANG MENIMBULKAN MURTAD


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ؛ أَكْثَرُ خَطَايَا اِبْنِ آَدَمَ مِنْ لِسَانِهِ - رواه الطبرانى
Rasulullah SAW bersabda ; Kehilafan manusia di dominasi oleh perbuatan lisan. (HR. Thabrani)

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ حِفْظُ إِسْلاَمِهِ وَصَوْنُهُ عَمَّا يُفْسِدُهُ ويُبْطِلُهُ ويَقْطَعُهُ وَهُوَ الرِّدَّةُ وَالعِياَذُ بِاللهِ تَعَالىَ , وَقَدْ كَثُرَ فىِ هَذَا الزَّمَانِ التَّسَاهُلُ فىِ الكَلاَمِ حَتَّى إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ بَعْضِهِمْ أَلْفاَظٌ تُخْرِجُهُمْ عَنِ الإِسْلاَمِ وَلاَ يَرَوْنَ ذَلِكَ ذَنْباً فَضْلاً عَنْ كَوْنِهِ كُفْراً

Setiap muslim wajib memelihara dan menjaga keislamannya dari segala hal yang merusak keislaman, yang membatalkan keislaman ataupun yang melepas keislaman, hal ini di sebut MURTAD, semoga Allah senantiasa melindungi kita semua, amien. Zaman sekarang nyaris sudah merebak, banyak orang menganggap remeh dalam menuturkan kata-kata sampai terlontar kata-kata yang membuatnya keluar dari Islam. Mereka tidak sadar bahwa itu dosa, apalagi menimbulkan kekufuran.

وَالرِّدَّةُ ثَلاَثَةُ أَقْساَمٍ كَمَا قَسَّمَهاَ النَّوَوِىُّ وَغَيْرُهُ مِنْ شاَفِعِيَّةٍ وَحَنَفِيَّةٍ وَغَيْرِهِمْ ؛ إِعْتِقاَدَاتٌ وَأَفْعاَلٌ وَأَقْوَالٌ، وَكُلٌّ يَتَشَعَّبُ شُعَبًا كَثِيْرَةً

Murtad terbagi tiga bagian sebagaimana disampaikan Al-Imam An-Nawawi, juga para Ulama madhab Imam Syafi’I dan Imam Hanafi. Yaitu Murtad sebab Keyakinan, Murtad sebab Perbuatan dan Murtad sebab Perkataan. Masing-masing memiliki cabang yang sangat banyak.

Disini Insya Allah kita mengangkat bagian ketiga, MURTAD SEBAB PERKATAAN :

مِنْهَا ؛ أَنْ يَقُوْلَ لِمُسْلِمٍ ياَ كاَفِرُ أَوْ ياَ يَهُوْدِىُّ أَوْ ياَ نَصْرَانِىُّ أَوْ ياَ عَدِيْمَ الدِّيْنِ مُرِيْداً بِذَلِكَ أَنَّ الَّذِى عَلَيْهِ المُخَاطَبُ مِنَ الدِّيْنِ كُفْرٌ أَوْ يَهُوْدِيَّةٌ أَوْ نَصْرَانِيَّةٌ أَوْ لَيْسَ بِدِيْنٍ لاَ عَلَى قَصْدِ التَّشْبِيْهِ

Diantaranya : Memanggil orang Islam dengan sebutan “Hai Kafir”, “Hai Yahudi”, “Hai Nashrani”, “Hai orang tidak beragama” dan sebagainya, sedangkan tujuannya memang menyatakan hal-hal itu kepada orang Islam. Bukan bertujuan Tasybih (Menyerupai) yang memang orang islam itu melakukan hal-hal sama dengan non msulim.

وَكَالسُّخْرِيَّةِ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعاَلىَ أَوْ وَعْدِهِ أَوْ وَعِيْدِهِ مِمَّنْ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ نِسْبَةُ ذَلِكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ , وَكَأَنْ يَقُوْلَ لَوْ أَمَرَنِى اللهُ بِكَذَا لَمْ أَفْعَلُهُ أَوْ لَوْ صاَرَتِ القِبْلَةُ فىِ جِهَةِ كَذَا ماَ صَلَّيْتُ إِلَيْهَا أَوْ لَوْ أَعْطَانِى اللهُ الجَنَّةَ ماَ دَخَلْتُهَا مُسْتَخِفاً أَوْ مُظْهِراً لِلْعِناَدِ فىِ الكُلِّ

Seperti merendahkan orang dengan ejekan yang menggunakan nama-nama Allah SWT, menggunakan janji Allah, menggunakan ancaman Allah dan ketentuan lain yang ada di Allah, dan yang tidak asing lagi. Seperti orang berkata, “Apabila Allah memerintahkan sesuatu saya tidak akan melakukannya”. Atau berkata, “Apabila kiblat berubah ke arah utara misalnya saya tidak akan shalat menghadap ke arah itu”. Atau berkata, “Apabila Allah memberikan aku sorga, saya tidak akan mau masuk”. semua itu dengan tujuan merendahkan atau menampakkan pengingkaran.

أَوْ قَالَ لِفِعْلٍ حَدَثَ هَذَا بِغَيْرِ تَقْدِيْرِ اللهِ , أَوْ إِذَا قاَلَ إِنْسَانٌ لَوْ شَهِدَ عِنْدِىَ الأَنْبِيَاءُ أَوْ المَلاَئِكَةُ أَوْ جَمِيْعُ المُسْلِمِيْنَ بِكَذا ماَ قَبِلْتُهُمْ , أَوْ قاَلَ لاَ أَفْعَلُ كَذَا وَإِنْ كاَنَ سُنَّةً بِقَصْدِ الإِسْتِهْزَاءِ

Atau berkata pada sesuatu yang baru terjadi, “Ini bukan taqdir dari Allah”. Atau berkata, “Apabila para Nabi, malaikat atau segenap kaum muslimin bersaksi (dakwah) didekatku maka aku tidak akan menerimanya”. Atau apabila seorang berkata, “Saya tidak akan melakukan sesuatu meskipun sesuatu itu sunnah”. Semua dengan maksud mengejek.
أَوْ قاَلَ شَخْصٌ لَوْ كاَنَ فُلاَنٌ نَبِياً ماَ آَمَنْتُ بِهِ , أَوْ أَعْطَاهُ عاَلِمٌ فَتْوًى فَقَالَ أَيْشٍ هَذَا الشَّرْعُ مُرِيْداً الإِسْتِخْفَافَ بِحُكْمِ الشَّرْعِ , أَوْ قاَلَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى كُلِّ عاَلِمٍ مُرِيْداً الإِسْتِغْرَاقَ الشَّامِلَ , أَوْ قاَلَ أَناَ بَرِىءٌ مِنَ اللهِ أَوْ مِنَ المَلاَئِكَةِ أَوْ مِنَ النَّبِيِّ أَوْ مِنَ الشَّرِيْعَةِ أَوْ مِنَ الإِسْلاَمِ , أَوْ قاَلَ لاَ أَعْرِفُ الحُكْمَ مُسْتَهْزِئاً بِحُكْمِ اللهِ

Atau apabila seseorang berkata, “Apabila si fulan itu Nabi maka saya tidak akan beriman”. Atau ketika ada seorang alim memberikan pernyataan agama, lalu di komentar. “Ehh, aduh ini hukum apa ya?” Bermaksud merendahkan hukum agama. Atau berkata, “Laknat Allah diperuntukkan kepada semua orang alim”. Maksudnya mencakup seluruh orang alim. Atau berkata, “Saya tidak terikat dengan Allah, juga dengan malaikat, dengan Nabi, dengan Hukum Islam atau dengan Islam.” Atau berkata, “saya tidak mengenal hokum Islam”. Maksudnya mengejek hokum Allah SWT.

أَوْ قاَلَ وَقَدْ مَلأَ وِعَاءً (وَكَأْساً دِهَاقاً-1) أَوْ أَفْرَغَ شَرَاباً فَقاَلَ (فَكَاَنتْ سَرَاباً-2) أَوْ عِنْدَ وَزْنٍ أَوْ كَيْلٍ (وَإِذَا كاَلوَهْمِ أَوْ وَزَنُوْهُمْ يَخْسُرُوْنَ -3) أَوْ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمْعٍ (وَحَشَرْناَهُمْ فَلَمْ نُغاَدِرْ مِنْهُمْ أَحَداً-4) بِقَصْدِ الاِسْتِخْفاَفِ فىِ الكُلِّ بِمَعْنَى هَذِهِ الآَياَتِ

Atau berkata saat perut kenyang, “Gelas-gelas yang penuh berisi minuman”. (QS. Annaba 34). Atau berkata saat minum, “Maka menjadi fatamorganalah ia”. (QS. Annaba 20). Atau berkata saat menimbang atau mengukur, “Apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al-Muithofifin 3). Atau berkata saat melihat kumpulan, “Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi 47) Semuanya itu dengan maksud mengejek dan merendahkan dengan menggunakan makna dari ayat-ayat tersebut.

وَكَذَا كُلُّ مَوْضِعٍ استُعْمِلَ فِيْهِ القُرْآَنُ بِذَلِكَ القَصْدِ فَإِنْ كاَنَ بِغَيْرِ ذَلِكَ القَصْدِ فَلاَ يَكْفُرُ , وَكَذَا يَكْفُرُ مَنْ شَتَمَ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا , أَوْ قاَلَ أَكُوْنُ قَوَّاداً إِنْ صَلَّيْتُ أَوْ ماَ أَصَبْتُ خَيْراً مُنْذُ صَلَّيْتُ أَوْ الصَّلاَةُ لاَ تَصْلُحُ لىِ بِقَصْدِ الاِسْتِهْزَاءِ

Demikian pula setiap tempat (ayat) dalam Al-Qur’an ketika digunakan untuk mengejek dan merendahkan maka itu membuat murtad, namun apabila ketika tidak bermaksud mengejek dan merendahkan maka tidak membuat murtad. Demikian pula membuat murtad adalah marah atau jengkel kepada Nabi atau malaikat. Atau berkata, “Saya terikat apabila saya melaksanakan shalat”. Atau berkata, “Saya tidak menemukan kebaikan apa-apa selama saya melaksanakan shalat”. Atau berkata , Shalat itu tidak baik buat saya”. Dengan niat mengejek.

وَقَدْ عَدَّ كَثِيْرٌ مِنَ الفُقَهاَءِ كاَلفَقِيْهِ الحَنَفِىِّ بَدْرُ الرَّشِيْدِ وَالقاَضِى عِيَاضٍ الماَلِكىِّ رَحِمَهُماَ اللهُ أَشْيَاءً كَثِيْرَةً فَيَنْبَغِى الاِطِّلاَعُ عَلَيْهَا فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَرَّ يَقَعُ فِيْهِ

Para Ulama Fiqih menyebutkan banyak sekali perkataan yang menimbulkan kekufuran atau murtad, layak untuk selalu di kaji. Karena orang yang tidak mengetahui hal buruk maka berpeluang besar terjerumus kepadanya.

وَالقَاعِدَةُ أَنَّ كُلَّ عَقْدٍ أَوْ فَعْلٍ أَوْ قَوْلٍ يَدُلُّ عَلَى اِسْتِخْفاَفٍ بِاللهِ أَوْ كُتُبِهِ أَوْ رُسُلِهِ أَوْ مَلاَئِكَتِهِ أَوْ شَعاَئِرِهِ أَوْ مَعَالِمِ دِيْنِه أَوْ أَحْكاَمِهِ أَوْ وَعْدِهِ أَوْ وَعِيْدِهِ كُفْرٌ فَلْيَحْذَرِ الإِنْسَانُ مِنْ ذَلِكَ جَهْدَهُ عَلَى أَىِّ حاَلٍ

Pedomannya ialah bahwa setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang menunjukan mengejek atau menghina Allah, menghina kitab-kitab Allah, menghina para Rasul Allah, menghina malaikat Allah, menghina Syi’ar Agama Allah, menghina para Ulama Allah, menghina hukum-hukum Allah, menghina janji Allah dan menghina ancaman Allah adalah menimbulkan murtad, kufur, keluar dari Islam. Seorang muslim hendaknya mewaspadainya di dalam kondisi apapun.

Allah Mengetahui Segalanya

Daftar Pustaka : Sulam At-Taufiq, Syekh Abdullah bin Al-Husen

Tidak ada komentar: